Kota Binjai yang dikenal sebagai kota rambutan, di tahun 2026 ini menghadapi tantangan budaya yang cukup serius dalam dunia keolahragaan. Sebuah pengamatan mendalam di lingkungan kampus dan komunitas pemuda memunculkan pertanyaan kritis: mengapa olahraga tradisional seperti hadang, egrang, dan tarik tambang yang dulu menjadi primadona, kini mulai ditinggalkan oleh generasi muda? Fenomena ini memicu kekhawatiran para budayawan dan pendidik, karena olahraga tradisional bukan hanya sekadar aktivitas fisik, melainkan wadah pelestarian nilai-nilai luhur dan identitas daerah yang seharusnya tetap hidup di tengah gempuran modernitas.
Ada beberapa faktor kunci yang menjelaskan mengapa olahraga tradisional kehilangan pesonanya di mata mahasiswa Binjai. Salah satu alasan utamanya adalah dominasi olahraga digital atau e-sports yang menawarkan kenyamanan dan aksesibilitas tanpa batas di tahun 2026. Mahasiswa kini lebih memilih menghabiskan waktu di depan layar gawai daripada berkeringat di lapangan untuk bermain gebuk bantal atau patok lele. Kondisi di mana permainan rakyat ini mulai ditinggalkan juga disebabkan oleh minimnya apresiasi dalam bentuk kompetisi formal. Tanpa adanya medali, sertifikat prestasi, atau jalur beasiswa, mahasiswa merasa bahwa menekuni olahraga tradisional tidak memberikan dampak signifikan bagi masa depan karier mereka.
Selain itu, terbatasnya ruang terbuka publik di Binjai juga menjadi hambatan nyata. Permainan seperti lari balok atau terompah panjang membutuhkan lahan yang cukup luas, namun lahan-lahan tersebut kini banyak beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan atau pemukiman. Alasan lain mengapa olahraga tradisional ini kian meredup adalah adanya anggapan “kuno” atau “kampungan” yang melekat pada jenis aktivitas tersebut. Di tahun 2026, tren gaya hidup sehat mahasiswa lebih berkiblat pada pusat kebugaran (gym) modern atau olahraga populer internasional seperti bola basket dan futsal. Akibatnya, olahraga asli nusantara semakin mulai ditinggalkan dan hanya muncul setahun sekali saat perayaan kemerdekaan, itu pun dengan peminat yang terus menyusut.
Minimnya regenerasi pelatih atau pakar olahraga tradisional di Binjai juga memperparah keadaan. Para tetua yang memahami teknik dan filosofi permainan mulai berkurang, sementara kurikulum olahraga di kampus-kampus lebih fokus pada cabang olahraga olimpiade.