Dalam dunia bela diri, kecepatan tangan dan kekuatan tendangan sering kali dianggap sebagai penentu utama kemenangan. Namun, bagi para pesilat mahasiswa di Binjai, terdapat dimensi lain yang jauh lebih krusial, yaitu kecerdasan taktis. Mereka menerapkan sebuah konsep unik yang dikenal sebagai Analogi Catur dalam Silat. Pendekatan ini mengajarkan bahwa setiap gerakan di atas matras bukanlah reaksi spontan semata, melainkan sebuah kalkulasi strategis yang mendalam. Seperti seorang pecatur yang menganalisis papan permainan, atlet silat dari Binjai dilatih untuk memetakan kemungkinan gerakan lawan dan menyiapkan respons yang mematikan jauh sebelum serangan itu benar-benar dilancarkan.
Penerapan logika catur ini bermula dari pemahaman tentang kontrol ruang dan tempo. Dalam permainan catur, penguasaan petak tengah adalah kunci untuk mendikte permainan. Demikian pula dalam Silat, pesilat Binjai belajar bagaimana memposisikan diri di arena agar lawan merasa terdesak meski belum ada kontak fisik yang terjadi. Mereka menggunakan gerak tipu atau feint sebagai umpan, mirip dengan pengorbanan pion dalam catur, untuk memancing lawan membuka pertahanannya. Ketika lawan terpancing untuk menyerang, pesilat sudah menyiapkan serangan balik yang telah direncanakan sebelumnya, menunjukkan kemampuan untuk berpikir beberapa langkah di depan.
Kecerdasan spasial dan temporal ini menjadi ciri khas yang membedakan atlet Binjai di kancah persilatan mahasiswa. Dengan menggunakan Analogi Catur, mereka mampu membaca bahasa tubuh lawan dengan sangat akurat. Pergeseran berat badan, arah pandangan mata, hingga pola pernapasan lawan dianggap sebagai simbol-simbol di atas papan catur yang harus dipecahkan. Mahasiswa yang juga mendalami strategi ini cenderung memiliki ketenangan yang luar biasa. Mereka tidak mudah terbawa emosi atau melakukan gerakan ceroboh karena mereka tahu bahwa setiap kesalahan kecil dalam posisi dapat berakibat pada kekalahan telak.
Selain itu, filosofi ini melatih efisiensi gerak. Dalam catur, setiap langkah harus memiliki tujuan yang jelas. Dalam bertanding, Atlet Binjai menghindari gerakan yang sia-sia yang hanya akan menguras energi. Mereka lebih memilih menunggu momen yang tepat untuk melancarkan satu serangan yang presisi daripada melakukan rentetan serangan yang tidak efektif. Kedisiplinan dalam berpikir taktis ini merupakan hasil dari latihan mental yang intens, di mana para atlet sering kali diberikan simulasi kasus-kasus tertentu di lapangan dan diminta untuk menemukan solusi terbaik dengan risiko terkecil.