Kota Binjai telah lama dikenal sebagai gudang atlet berbakat yang memiliki semangat juang tinggi di lapangan. Namun, di era digital saat ini, kemampuan fisik saja tidak lagi cukup untuk menunjang karier seorang olahragawan. Fenomena atlet Binjai go media menunjukkan bahwa kini para mahasiswa yang bergelut di dunia olahraga juga harus mampu merepresentasikan diri mereka di depan publik. Kemampuan berbicara di depan kamera, menghadapi wartawan, hingga mengelola konten media sosial menjadi aset penting yang dapat membuka pintu sponsor dan dukungan masyarakat secara lebih luas.
Bagi sebagian besar atlet, berdiri di depan mikrofon seringkali terasa lebih menegangkan daripada menghadapi lawan di babak final. Ketegangan ini muncul karena kurangnya pembiasaan dalam mengartikulasikan pikiran secara terstruktur. Padahal, melalui komunikasi yang baik, seorang atlet dapat membangun personal branding yang kuat. Bapomi Binjai menyadari kebutuhan ini dan mulai mengintegrasikan pelatihan komunikasi sebagai bagian dari pengembangan diri atlet mahasiswa agar mereka tidak hanya juara di podium, tetapi juga mahir dalam menyampaikan pesan yang inspiratif.
Pentingnya Struktur dalam Berbicara
Kunci utama dalam komunikasi publik adalah struktur. Dalam berbagai tips public speaking yang diberikan, langkah pertama adalah menguasai materi pembicaraan. Bagi seorang atlet, materi tersebut adalah pengalaman mereka sendiri. Menggunakan metode “Storytelling” atau bercerita tentang perjuangan, kegagalan, hingga momen kemenangan dapat membuat audiens merasa terhubung secara emosional. Atlet diajarkan untuk tidak hanya menjawab dengan kata “ya” atau “tidak” saat sesi wawancara, melainkan memberikan penjelasan yang memiliki kedalaman.
Selain struktur kata, bahasa tubuh juga memegang peranan krusial. Seorang atlet mahasiswa dari Binjai harus mampu menunjukkan kepercayaan diri melalui postur tubuh yang tegak dan kontak mata yang stabil. Bahasa tubuh yang positif akan memperkuat pesan yang disampaikan dan memberikan kesan bahwa atlet tersebut adalah individu yang profesional dan berwibawa. Hal ini sangat penting saat mereka harus mempresentasikan diri di hadapan calon sponsor atau pihak universitas yang memberikan beasiswa prestasi.
Menghadapi Media dengan Kepala Dingin
Media massa memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Oleh karena itu, kemampuan mengelola emosi saat diwawancarai adalah hal yang wajib dikuasai. Bagi atlet yang baru saja mengalami kekalahan, memberikan pernyataan yang tetap tenang dan sportif adalah tantangan besar. Di sinilah peran teknik pernapasan dan jeda bicara sangat membantu. Dengan mengambil jeda sejenak sebelum menjawab, seorang atlet dapat memikirkan kata-kata yang tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau kutipan yang kontroversial di media sosial.